Alasan Pemutusan Hubungan Kerja

Karyawan berfungsi sebagai tulang punggung bisnis kecil, menyediakan sumber daya manusia yang mereka butuhkan untuk melayani pelanggan mereka. Pemilik bisnis kecil mewawancarai dan mempekerjakan karyawan untuk membantu mereka mengelola, memasarkan, dan mengoperasikan bisnis mereka. Sementara mereka berusaha untuk merekrut karyawan berbakat yang sesuai dengan budaya perusahaan, anggaran dan kebutuhan sumber daya manusia, terkadang pemilik usaha kecil dihadapkan pada keputusan untuk memberhentikan karyawan mereka. Karyawan diberhentikan karena berbagai alasan, banyak di antaranya berbeda menurut ekspektasi perusahaan dan pemberi kerja.

Mengurangi Anggaran

Jika keuntungan turun, atau usaha kecil kekurangan dana dari investor, pemilik usaha kecil mungkin tidak mampu mempertahankan staf penuh mereka. Akibatnya, mereka mulai memberhentikan karyawan untuk memaksimalkan anggaran mereka. Keputusan pemutusan hubungan kerja dapat didasarkan pada seberapa penting posisi karyawan bagi perusahaan. Jika tim atau individu tertentu diidentifikasi sebagai penyebab penurunan keuntungan, keputusan penghentian mungkin didasarkan pada faktor-faktor tersebut.

Kehadiran

Sementara pemberi kerja memahami bahwa karyawan mungkin perlu mengambil cuti sesekali karena sakit, kematian dalam keluarga mereka, liburan dan bahkan hari-hari pribadi, karyawan yang terus-menerus tidak masuk kerja dapat dikenakan pemutusan hubungan kerja. Sering absen dan terlambat dapat berdampak negatif pada produktivitas, keuntungan, dan moral perusahaan. Hal ini terutama berlaku ketika manajer, direktur, wakil presiden, dan kepala perusahaan lainnya melewatkan banyak waktu. Karyawan yang sering terlambat ke tempat kerja, atau meninggalkan kantor sebelum giliran kerja selesai, juga dapat diberhentikan tergantung pada jadwal kerja perusahaan mereka.

Performa

Ketika karyawan dipekerjakan untuk bekerja di perusahaan, mereka diberi deskripsi pekerjaan yang menguraikan tugas yang diharapkan untuk mereka penuhi. Ketika karyawan gagal dalam mencapai tujuan mereka, manajer dihadapkan pada keputusan apakah kinerja seorang karyawan menjamin pemutusan hubungan kerja atau tidak. Kinerja yang buruk dapat mencakup segalanya mulai dari tidak mencapai sasaran penjualan sasaran dan mengabaikan detail proyek hingga tenggat waktu yang tidak terlewat. Karyawan juga dapat diberhentikan karena mereka kurang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk memenuhi tugas yang diberikan.

Sikap dan Perilaku

Karyawan diharapkan untuk menjaga tingkat rasa hormat terhadap perusahaan tempat mereka bekerja, atasan mereka, sesama karyawan, vendor, dan klien. Perilaku seperti menggunakan kata-kata kotor saat berbicara dengan pelanggan, mencuri dari perusahaan, memfitnah perusahaan, mengunjungi situs web terlarang di kantor dan bahkan penyalahgunaan narkoba dan alkohol merupakan perilaku negatif yang dapat mengakibatkan karyawan dipecat.